Get the Flash Player to see this player.
 

“Kampanye ASI 3 Dimensi, maksudnya apa, ya?” Mungkin itu adalah sebersit pertanyaan yang muncul di benak seluruh staf Wahana Visi Indonesia Kantor Operasional Nias pada Kamis pagi, 11 Agustus 2011 ketika mengikuti sosialisasi Pekan ASI di kantor.

“Tiga dimensi itu meliputi waktu (sejak masa kehamilan hingga penyapihan) dan tempat (rumah, masyarakat, dan sistem pelayanan kesehatan). Tapi tak satu pun yang akan menghasilkan dampak tanpa dimensi ketiga, yaitu KOMUNIKASI,” kata Manajer Wahana Visi Kantor Operasional Nias.

Ia menjelaskan bahwa komunikasi adalah bagian mendasar dari perlindungan, promosi, dan dukungan menyusui.

“Kita hidup di dunia di mana individu dan masyarakat global dapat terhubung melintasi jarak jauh dan dekat dalam sekejap,” jelas Portunatas.

Setelah mendengar penjelasan itu, barulah staf memahami makna ‘3 Dimensi’ itu.

Menyusul pengantar dari Portunatas, beberapa penjelasan tentang pemahaman yang berhubungan dengan ASI dipaparkan oleh Introsman Harefa, Fasilitator Pengembangan Health.



Materi yang disampaikan pagi itu antara lain mengenai Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pentingnya kolostrum (cairan pertama yang keluar dari puting ibu setelah melahirkan) untuk kekebalan bayi, ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama, Makanan Pendamping ASI (MP ASI) setelah berumur 6 bulan, dan pemberian ASI sampai umur 2 tahun.

Semuanya merupakan ‘standar emas makanan bayi’, di mana hal ini harus dimengerti dan dilaksanakan oleh orangtua yang baru melahirkan untuk memastikan anak tumbuh dalam keadaan gizi yang baik.

Menurut penelitian sebelumnya oleh Wahana Visi Kantor Operasional Nias tentang Komunikasi Perubahan Perilaku Praktik Pemberian ASI di masyarakat, ditemukan bahwa banyak orangtua dan bidan yang tidak tahu tentang standar emas makanan bayi ini.

Karena banyak mitos negatif tentang kolostrum yang beredar di masyarakat, banyak sekali bayi baru lahir tidak mendapatkan zat yang sangat penting bagi kekebalan tubuh bayi ini.

Semua kesalah-pahaman ini hendak diluruskan melalui kegiatan Pekan ASI 2011 yang diadakan oleh Wahana Visi. Diharapkan, semua staf yang sudah mengampanyekan harapan mereka tentang pentingnya ASI bagi bayi, bisa menjelaskan dengan baik ketika menyuarakan ke masyarakat.

Siang harinya, staf sudah siap untuk melakukan sosialisasi praktik pemberian ASI di Desa Fadoro Lalai. Bertempat di GPdI Hebron, target sosialisasi adalah ibu baduta/balita (ibu menyusui) dan bidan dari desa setempat. Peran bidan dirasa penting karena bidanlah yang diharapkan untuk memberitahukan cara terbaik untuk ibu yang baru melahirkan agar melakukan IMD, memberikan ASI Eksklusif enam bulan dilanjutkan dengan pemberian ASI hingga bayi berumur dua tahun.

Kaum bapak juga tidak ketinggalan, karena hasil riset menunjukkan bahwa peran ayah juga sangat penting dalam perilaku praktik pemberian ASI di keluarga.

Waktu menunjukkan tepat pukul 14.15 WIB ketika sosialisasi dimulai. Kegiatan diawali oleh pembuatan peta desa untuk memetakan lokasi tempat tinggal ibu hamil dan anak baduta di Desa Fadoro Lalai. Proses pemetaan ini berguna untuk keperluan pendataan dan monitoring partisipatif dari pihak masyarakat.

Sosialisasi praktik pemberian ASI dilakukan melalui media pemutaran klip “Ibuku Malaikatku” di dalam ruang gereja. Dengan bantuan bidan desa setempat, materi mengenai ‘standar emas makanan bayi’ dilakukan menggunakan bahasa Nias agar materi lebih mengena ke masyarakat.

Tercatat, 6 bidan desa, ± 20 bapak-bapak, dan lebih dari 70 ibu baduta/balita (ibu menyusui) terlibat dalam kegiatan kampanye ASI 2011 ini. Melalui tangan merekalah kita berharap anak-anak bisa mendapat asupan gizi yang baik dan mencukupi semenjak baru dilahirkan.

Karena hanya dengan itulah, impian kita bersama agar anak Nias memiliki kesehatan dan masa depan yang cerah, bisa terwujud. Tidak ketinggalan juga, dalam kegiatan ini hadir 75 anak perempuan dan laki-laki.

Karena tempat tidak memungkinkan, maka Deni Gumilang, CDC Wahana Visi Kantor Operasional Nias, mengajak anak-anak untuk bermain dan belajar di pelataran halaman, sekitar 100 meter dari tempat kegiatan.



”Senang sekali seperti ini, kalau Om atau Tamte dari Wahana Visi bisa sering bermain dengan kami di desa ini,” kata seorang anak perempuan bernama Fitri Mendrofa, 13 tahun.

”Ya, Om, semua anak jadi bisa berkumpul dan tidak terasa lelah sampai sore begini,” kata Vincent Mendrofa, 13, menimpali.

* Penulis adalah Monev Learning Coordinator dan Manajer Wahana Visi Indonesia Kantor Operasional Nias.

Condition of Use | Disclaimer
Wahana Visi Indonesia is a Christian humanitarian organization working to create lasting change in the lives of children, families and communities living in poverty. Wahana Visi is a partner of humanitarian organization World Vision Indonesia and implements most of World Vision's programs. Inspired by our Christian values, Wahana Visi is dedicated to working with the most vulnerable people. Wahana Visi serves all people regardless of religion, race, ethnicity or gender.
Registered in the Ministry of Justice and Human Rights No. AHU-AH.01.08-542
Act No. 27 Dated March 31, 2008
© Wahana Visi Indonesia. All rights reserved.
Best viewed with Mozilla Firefox 3.5
Facebook Fan PageFollow UsRSS